Rabu, 04 November 2009

MUTIARA HATIKU (Bag.2)


Ya..aku masih ingat..hitungan jariku
yang menandakan usia kehamilan istiku sembilan bulan lebih...
Rasa senang bercampur gundah..rasa bangga bercampur kasihan namun mengalahkan kebahagiaan yang akan akudapatkan sebentar lagi...kelahiran anak kedua.
Lantas...segera aku ambil handpone..disela kantong celanaku.
aku berniat menanyakan keadaan permata hatiku disana.
saat aku akan menekan bebarapa angka yang tersusun dalam papan handphone ku...tiba-tiba..justru handphone ku yang berdering...
kulihat siapa yang menelpon...
oh...tuhanku...ternyata....
ternyata istriku yang menelpon...
Ya Allah...engkau menyatukan perasaan kami dalam kebahagiaan ini...
namun...
apa gerangan yang membuat mantan pacarku itu menelponku....
aku kembali berfikir..
jangan jangan..oh...tapi aku tak mau terkutat dengan prasangka buruk...bisa-bisa aku jadi stres.

"Hallo...ayah..assalamu'alaikum." istriku memulai sapaannya dengan salam.
dengan segera aku menjawab meskipun masih tersimpan tanda tanya..
"alaikum salam..."jawabku.
"ayah..."
"ya...umi". begitu aku memanggil kekasihku itu dengan panggilan umi.
munkin karena para santri pengajian dirumah sering memanggil istriku dengan sebutan umi.
"hari ini cepat pulang ya..yah!" pintanya.
belum sempat aku menyahuti pintanya langsung dia meneruskan perkataannya.
"sudah sangat terasa,yah! perutku rasanya sudah semakin mulas." tegasnya

Oh..tuhan..saat itu akan segera tiba

Tanpa fikir panjang, segera aku meninggalkan musholla menuju keruang kerjaku. Sambil berjalan ,aku terus mendengarkan suara rintihan istriku memalui handphone.

MUTIARA HATIKU (bag.1)


hari itu..saat asik berkutat dengan keseharian dikantor..terbayang seseorang dirumah. Padahal waktu baru menunjukkan pukul tiga sore..sedikit lagi masuk waktu shalat ashar. Ngiangku menggugah telinga..piiranku menerawang..dan padanganku tertuju pada sebuah produk susu ibu hamil...apa yang aku bayangkan hampir sama dengan gambar yang ada dalam produk itu...yach..istri sedang hamil.
Jariku...tak sengaja aku gerakan untuk menghitung.usia kandungan istriku...huppsss. Ya Allah ternyata sudah sembilan bulan lebih tujuh hari....namun lamunanku terhentak. Suara adzan sudah berkumandang. Bergegas aku meninggalkan pekerjaanku dan berdiri lalu melintasi rekan kerjaku...woi..sudah waktu shalat asyar.Aku ajak salah satu temanku untuk bersama-sama turun kelantai bawah untuk berjamaah..maklumlah..mushollah kami ada dihalaman kantor bawah..jadi harus turun.
"udah masuk ashar, nih..! bareng gak..?" tanyaku pada lelaki seumuranku itu
"yach..tunggu sebentar,yach. ."
Temanku yang satu ini memang termasuk ahli ibadah..jadi jarang menolak kalau diajak berjamaah.

Setelah kami melaksanakan shalat ashar berjamaah..aku sengaja masih beada dalam musholla.
"Kang adung..masih lama?" tanya sahabatku itu dengan suaranya yang lembut.
"yach..tapi aku mau disini dulu.."jawabku
"kalau gitu saya duluan, yach. nanti si bos cari-cari aku...!
"oke, mas. silahkan...Aku menyusul nanti." tegasku.

Mendadak kembali aku ingat keadaan istriku dirumah..."apa kabarnya,yach?" tandasku dalam hati.

Kamis, 15 Oktober 2009

sendiri

telah diberikan kepada mahluknya yang termulia segala macam penikmat tubuh dan jiwa...ditumbuhkannya pohon dan tanaman yang menghasilkan untuk dimakan...dilapangkan daratan untuk tempat naungan...diberikan hasrat dan kemauan untuk mengembangkan dan melanjutkan kehidupa,..padahal cuma sekali dikasih kita kesempatan untuk hidup..cuma sekali...yah..sekali lagi cuma sekali...

Namun kadang semua menjadikan kita lupa karena asik untuk menikmati tanpa pernah meresapi...bagaimana langit diciptakan..bumi dihamparkan....gunung ditegakkan...dengan kalimat subhanallah.....ya Rabb..ampunilah hampa yang lebih sering khilaf dari pada ingat..yang lebih sering berdosa dibanding berpahala...

satu kali mata memandang....jutaan warna dapat tersaksikan bagaimana engkau memperindah alam ini...satu kali suara burung bersiul...menjadi saksi bagaimana engkau memberikan nikmat pendengaran...dan masih terlalu banyak untuk tersebutkan..padahal kami tak mampu mengitung apa yang telah engaku berikan...

Senin, 08 Juni 2009

Ketulusan

ketulusan secara tata bahasa berasal dari kata tulus...boleh jadi tulus..juga penyederhanaan kata too lost, yang artinya hilang begitu saja tanpa berbekas. (seenak gue aje yang maknain...he..hee.boleh kan).
Tapi setidaknya memang begitulah. Ketulusan memiliki makna yang sama dengan keikhlasan yaitu tidak mengharapkan balasan selain balasan Allah SWT (tetap berharap balasan juga..dong kalo begitu...?)
Ya...memang tidak ada balasan yang terbaik selain balasan Allah. semua diganjar sesuai kadarnya. Jangankan keikhlasan sebagai salah satu inti ibadah, berbuat jahat juga ada balasannya.

Bukankah Allah SWT telah berfirman: " Barang siapa yang beramal baik sekecil atom (materi terkecil yang ada di langit dan buni) maka akan dibalas kebaikan, dan barang siapa juga yang berbuat kejahatan sekecil atom, maka Akan dibalas pula kejahatannya". (Ayat).

Tulus atau ikhlas merupakan rasa yang tidak terasa atau memiliki rasa. ia hadir semata-mata karena Allah. Tidak ada kekkutan lain yang lebih besar dari kekuatan Allah yang menggetarkan hati manusia untuk berbuat baik dengan tulus.

Manusia akan merasakan ketenangan secara dzhohir dan hakikat atas segala apa yang diupayakannya. tanpa takut akan kehilangan segalanya hanya karena berbuat kebaikan.

Semoga bermanfaat .

ANDA PENGUNJUNG KE